ARTIKEL,  FAKTA JAM TANGAN,  INFO JAM TANGAN

CEO Notes, Di Balik Harga Jam Yang Naik Berlipat-lipat

Selama masa pandemi, banyak industri yang terdampak turun terutama industri fesyen dan barang mewah. Namun, kondisi pandemi malah menjadi “perfect storm” bagi industri jam tangan mewah. Naiknya harga hingga ke angka yang sulit diterima logika menjadi fenomena menarik.

Dari data timeandtidewatches.com di tahun 2020, harga jam Rolex Daytona 116500LN White, meroket dari harga ritel resmi Rp. 184 juta menjadi Rp. 407 juta di pre-owned market (pasar jam tangan secondary).

*Dari sumber informal, per Januari 2022 harga Rolex Daytona 116500LN White di pasar secondary telah berada di kisaran Rp. 600 juta.

Model Jam Tangan RolexHarga Ritel (Rp.)Harga Pasar (Rp.)%
Rolex Daytona 116500LN White184,100,000407,719,620121%
Rolex Submariner Date “Kermit”126610LV133,700,000322,315,000141%
Rolex Daytona 116500LN Black184,100,000365,551,76099%
Rolex Sky-Dweller 326934 Blue Dial207,200,000373,716,00080%
Rolex “Pepsi” GMT-Master II 126710BLRO135,800,000282,081,380108%
*Sumber https://timeandtidewatches.com/rolex-retail-versus-secondhand/
(Data tahun 2020, Kurs 1 USD = Rp. 14.000)

Begitu juga dengan merek-merek lain, Patek Philippe Ref. 5711 Green Dial, dengan harga ritel USD $35.000 (Rp. 490 juta) dilelang dengan harga USD $490,000 (Rp. 6.8 Milyar). Merek Audemars Piguet Royal Oak 15500ST naik hampir 3 kali lipat sejak tahun 2017.

*Sumber data: https://www.cnbc.com/2021/10/13/luxury-watch-shortage-drives-growth-of-20-billion-secondhand-market.html

Dari sisi kuantiti, menurut laporan dari Morgan Stanley, di tahun 2020, Rolex menjual 810.000 buah, Patek Philippe menjual 53.000 buah, Audemars Piguet 40.000 buah dan Richard Mille 4.300 buah jam tangan.

Menurut data dari McKinsey, total penjualan pasar jam tangan bekas pada tahun 2019 diprediksi mencapai USD 18 Milyar (Rp. 252 Triliun).

Fakta Menarik Dari Meroketnya Harga Jam Tangan Mewah

Banyak pihak yang menerka bahwa kenaikan harga jam mewah ini disebabkan oleh produsen yang sengaja mengerem produksi.

Isu ini dipatahkan dalam konferensi pers yang dilakukan oleh pihak Rolex, mereka membantah bahwa ini adalah bagian dari strategi. Biarpun mereka mengakui penghentian produksi ada dilakukan hanya selama 10 hari di masa pandemi. Jumlah produksi pun stabil berada di angka 1 juta buah setiap tahun. Menurutnya, persediaan yang ada tidak bisa memenuhi peningkatan permintaan yang naik drastic karena pengaruh social media.

Di masa pandemi, konsentrasi kekayaan berubah dari liburan mewah ke hal lain salah satunya adalah jam tangan didukung dengan aliran informasi yang mendominasi social media. Sosial media adalah platform paling populer dalam menyebarkan gaya hidup. Gambaran kehidupan glamor menjadi magnet atau harapan indah bagi banyak netizen.

Hal ini berkontribusi besar menjadikan jam tangan sebagai benda koleksi dan investasi yang paling menarik. Social media hype, FOMO (Fear of Missing Out) dan riuhnya pasar jam tangan bekas di dunia maya menyumbang meroketnya permintaan jauh di atas persediaan yang tetap sama. Menariknya di industri jam tangan, harga ditetapkan oleh mekanisme pasar Supply Vs. Demand, tanpa ada bursa resmi yang mengaturnya.

Kenapa Harus Jam Tangan

Perlindungan nilai apalagi pertumbuhan nilai menjadi fokus masyarakat kelas atas di saat pandemi. Jam tangan pun menjadi pilihan utama karena daya tariknya memiliki opsi lengkap yang memenuhi aspek simbol status sosial, fesyen, gaya hidup cerdas, mahakarya, peluang naiknya harga dan yang paling utama adalah mencatat waktu atau momen.

Menurut hasil riset Deloitte, dalam 5 tahun terakhir ini, memiliki jam tangan telah menjadi lebih penting karena gaya hidup bagi generasi milenial dan Gen Z. Terjadi pertumbuhan 4% pelanggan pada kedua jenis jam yaitu jam konvensional dan jam pintar. Jam tangan konvensional tetap menjadi primadona karena fungsinya yang abadi dalam mencatat momen, sedangkan smartwatch adalah untuk mendukung fungsionalitas.

Memiliki Jam Tangan Bermakna Tidak Harus Mahal

Jam tangan saat ini cenderung dilabel dengan kemewahan. Sebenarnya untuk memiliki sebuah jam tangan bermakna tidak selamanya harus mahal. Karena salah satu faktor terbesar antusias terhadap jam tangan adalah fungsinya dalam mencatat waktu dan momen.

Salah satu motivasi produsen yang terus mendobrak batas-batas konstruksi jam tangan adalah karena sikap mengagungkan momen. Seringkali fungsi atau komplikasi yang dibuat malah jarang digunakan optimal untuk kehidupan sehari-hari, contoh komplikasi perata waktu atau equation of time.

*komplikasi perata waktu: selisih antara waktu kulminasi Matahari Hakiki dengan waktu kulminasi Matahari Rata rata

Jam tangan ibarat piagam atas sebuah momen bermakna karena menjadi saksi sejarah yang terus berjalan selamanya. Contoh, sebagai momen pencapaian prestasi, momen apresiasi, momen motivasi hidup atau momen kenangan dari orang bermakna.

Jam tangan bukanlah jurang pemisah status sosial melainkan mempersatukan cara berpikir dalam menghargai momen. Jam tangan orisinil berkualitas tinggi yang dimulai dari harga ratusan ribu Rupiah memiliki prestise yang seimbang dalam menghargai momen.

Jam orisinil dibuat untuk mencatat momen berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang. Karena waktu yang berjalan adalah harta paling berharga di kehidupan ini.

Hendra Kesuma,

CEO of RADATIME

Sumber: https://www.cnbc.com/2021/10/13/luxury-watch-shortage-drives-growth-of-20-billion-secondhand-market.html

https://www.watchpro.com/rolex-breaks-silence-on-alarming-shortages-and-soaring-waiting-lists/

https://manofmany.com/fashion/watches/rolex-shortage-explained

https://www.scmp.com/magazines/style/watches/article/3075799/why-rolex-and-patek-philippe-are-halting-watch-production

Click to access deloitte-ch-en-swiss-watch-industry-study-2021.pdf

Diliput oleh:

Pusat Jam Tangan Original #1 Indonesia - RADATIME - PT. Rada Kreasi Indojaya #RadiateMomentsInTime

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *